Pamekasan, Selasa 28 April 2026| Berita Satu- Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pamekasan meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman degradasi moral di kalangan pelajar, seiring maraknya pengaruh negatif gadget dan media sosial.
Kepala Disdikbud Pamekasan, Akhmad Basri Yulianto, menegaskan bahwa fase remaja, khususnya tingkat SMP, menjadi titik paling rentan terhadap pergaulan bebas dan penyimpangan perilaku.
“Banyak faktor yang memicu dekadensi moral, termasuk penggunaan gadget dan media sosial tanpa kontrol. Kami sudah banyak kejadian sosialisasi kembali di tingkat SMP, karena ini fase paling rawan,” katanya, Selasa (28/4/2026).
Langkah konkret mulai dilakukan melalui sosialisasi di sejumlah sekolah, salah satunya di SMP Negeri 1 Larangan. Selain itu, Disdikbud juga menggandeng unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Pamekasan untuk memperkuat edukasi terkait risiko sosial di kalangan pelajar.
Upaya penguatan karakter juga diarahkan pada aspek keagamaan. Pemerintah daerah mulai menerapkan uji kompetensi baca Al-Qur’an bagi siswa sekolah dasar, sebagai implementasi peraturan daerah tentang kewajiban membaca Al-Qur’an.
“Ini bukan sekedar regulasi, tapi sudah kami jalankan. Harapannya, anak tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki landasan agama yang kuat,” tegasnya.
Disdikbud juga mendorong penguatan iklim berbasis nilai lokal dan keagamaan, termasuk penambahan jam pelajaran Al-Qur’an dan bahasa daerah, sejalan dengan visi menjadikan Pamekasan sebagai kota pendidikan sekaligus kota Al-Qur’an.
Namun demikian, pemerintah mengakui bahwa pengawasan terhadap anak tidak bisa hanya bergantung pada sekolah. Peran keluarga dinilai jauh lebih dominan dalam membentuk karakter anak.
“Anak lebih banyak berada di rumah dibandingkan di sekolah. Oleh karena itu, orang tua harus aktif menghimpun pergaulan dan aktivitas anak, termasuk di media sosial,” katanya.
Menurutnya, kemajuan teknologi membuka akses tanpa batas bagi anak, yang berpotensi membawa dampak negatif seperti kecanduan game, judi online, paparan radikalisme, hingga konten pornografi.
“Tidak semua konten itu buruk, tetapi risiko negatifnya sangat besar jika tanpa pengawasan. Peran orang tua sangat penting agar anak bisa bijak menggunakan media sosial,” tutupnya. (Yudi)