Lamongan, Senin 29 Desember 2025 | Berita Satu- Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-16 Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dirangkai dengan Harlah Nahdlatul Ulama (NU) ke-103 digelar khidmat di Pondok Pesantren Roudlatud Darojat, Desa Banjarwati, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan.
Momentum tersebut dimanfaatkan sebagai ajang refleksi nilai keislaman, kebangsaan, sekaligus penguatan peran guru ngaji dalam kehidupan sosial dan pendidikan masyarakat.
Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, hadir langsung menyapa para guru ngaji yang menjadi target utama kegiatan. Kehadiran senator yang akrab disapa Ning Lia disambut hangat oleh Pengasuh Ponpes Roudlatud Darojat KH Mustaji, para nyai, serta jamaah dari lingkungan pesantren dan Banser.
Dalam berbagai hal, Ning Lia menegaskan bahwa guru ngaji memiliki strategi dalam menjaga nilai akhlak, posisi keislaman pendidikan, dan ketahanan sosial masyarakat. Menurutnya, guru ngaji bukan hanya mengajar ilmu agama, tetapi menjaga nilai dan karakter generasi bangsa.
“Guru ngaji adalah penjaga nilai dan akhlak. Mereka bekerja dalam efisiensi, tetapi dampaknya sangat besar bagi masa depan bangsa,” tegas Ning Lia, Senin (29/12/2025).
Lia menyebut, penguatan peran guru ngaji sejalan dengan amanat Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2024, yang menekankan pentingnya perlindungan sosial bagi penggerak pendidikan keagamaan.
Ning Lia juga mengungkapkan pengalamannya sebagai mantan guru ngaji dan pengajar TPQ, yang menurutnya membentuk kepekaan sosial dan tanggung jawab moral hingga kini.
“Pendidikan bukan sekedar transfer ilmu, tapi keteladanan. Apa yang dicontohkan guru akan terus diingat muridnya,” tutupnya.
Peringatan Harlah Gus Dur dan NU ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya merawat warisan pemikiran Gus Dur tentang kemanusiaan, toleransi, dan keadilan sosial. Ning Lia berharap pesantren dan guru ngaji tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai tersebut di tengah tantangan zaman. (Kiki)