Pamekasan, Sabtu 28 Februari 2026 | Berita Satu- Di tengah kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat, Bupati Pamekasan KH. Kholilurrahman mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali budaya gotong royong sebagai fondasi pembangunan daerah.
Pesan itu disampaikan dalam Safari Ramadhan di Kecamatan Batumarmar, Jumat sore. Menurutnya, gotong royong bukan sekadar tradisi lama, melainkan identitas kuat bangsa Indonesia yang kini mulai memudar.
“Dulu masyarakat kita sangat kental dengan gotong royong. Sekarang ini mulai berkurang. Padahal di tengah keterbatasan anggaran, gotong royong justru menjadi solusi penting pembangunan,” tegasnya, Sabtu (28/2/2026).
Kholilurrahman menilai, di era pengetatan anggaran, pembangunan tidak bisa sepenuhnya bergantung pada kekuatan fiskal pemerintah daerah. Partisipasi aktif masyarakat, menurutnya, harus menjadi energi baru pembangunan.
Ia menekankan pentingnya sinergi kolektif, mulai dari tingkat kabupaten hingga desa, agar pembangunan tetap berjalan meskipun ruang fiskal terbatas.
“Kalau masyarakat sadar akan pentingnya membantu kemajuan daerahnya sendiri, maka pembangunan akan lebih ringan dan terasa manfaatnya,” ujarnya.
Menurutnya, kesadaran bersama untuk terlibat aktif dalam pembangunan akan mempercepat kemajuan Pamekasan tanpa harus sepenuhnya menunggu intervensi anggaran pemerintah.
Bupati juga menegaskan Safari Ramadhan bukan agenda simbolik belaka. Forum tersebut dimanfaatkan sebagai ruang dialog terbuka antara pemerintah dan masyarakat. Dalam setiap kesempatan, ia membuka ruang aspirasi, kritik, dan saran agar arah pembangunan benar-benar sesuai kebutuhan warga.
“Dengan dialog terbuka, kita bisa saling memahami kondisi yang ada, termasuk batasan anggaran. Dari situ lahirlah kebersamaan,” tandasnya.
Selain menghidupkan semangat gotong royong, Bupati Kholilurrahman juga menekankan pentingnya pentingnya dalam setiap kegiatan pemerintahan, termasuk Safari Ramadhan.
“Saya pastikan konsumsi yang disajikan untuk dirinya sama dengan yang diterima masyarakat. Dan saya mengingatkan para camat dan kepala desa agar tidak berlebihan atau bermewah-mewahan dalam penyelenggaraan kegiatan.” kesimpulan.
Langkah tersebut dinilai sebagai simbol kepemimpinan yang berpihak dan sensitif terhadap kondisi masyarakat di tengah tantangan ekonomi. Dengan mengembalikan nilai gotong royong dan efisiensi, Pemerintah Kabupaten Pamekasan berharap pembangunan tetap bergerak maju meski dalam tekanan keterbatasan anggaran. (Yudi)