Nganjuk, Selasa 6 Januari 2026 | Berita Satu- Penguatan peran perempuan muda dalam kepemimpinan organisasi menjadi fokus utama Sekolah Kader Penggerak Putri yang digelar Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jawa Timur. Kegiatan ini berlangsung di lingkungan akademik STAI KH Zainuddin Mojosari, Kabupaten Nganjuk.
Forum kaderisasi strategi tersebut menghadirkan Anggota DPD RI Lia Istifhama sebagai narasumber utama. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus memperkuat kapasitas kader perempuan NU agar siap menjadi agen perubahan di tengah tantangan era digital dan dinamika generasi muda.
Sekolah Kader Penggerak Putri dirancang tidak hanya sebagai sarana transfer pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya kepemimpinan yang relevan, membangun, dan berkarakter di tengah dominasi Generasi Z dan milenial.
Dalam pemaparannya, Senator muda yang akrab disapa Ning Lia menekankan bahwa kepemimpinan perempuan saat ini membutuhkan lebih dari sekadar semangat. Menurutnya, kemampuan berkomunikasi secara jernih dan membangun jejaring yang berkelanjutan menjadi kunci utama agar gerakan organisasi tetap hidup dan berdampak.
“Perempuan muda NU memiliki potensi besar untuk tampil sebagai pemimpin yang berpengaruh, selama mampu menyelaraskan nilai keislaman, ke-NU-an, dan kepekaan sosial dengan cara komunikasi yang sesuai karakter generasi muda,” ujar Ning Lia, Selasa (6/1/2026).
Gubernur Keponakan Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa juga menegaskan bahwa pemimpin perempuan perlu hadir sebagai sosok yang dekat dengan kader dan masyarakat, bukan figur yang menjauhi.
“Kepemimpinan yang efektif hari ini adalah kepemimpinan yang autentik, tidak dibuat-buat, mampu mendengar, merangkul, dan membangun kedekatan emosional dengan yang dipimpin,” jelasnya.
Lia Istifhama menambahkan, generasi Gen Z dan milenial tumbuh di ruang digital yang menuntut kejujuran, interaksi dua arah, serta kecepatan menanggapi perubahan.
“Jadi, pemimpin perempuan dituntut memiliki kreativitas dan keberanian menghadirkan ide-ide baru agar organisasi tetap relevan,” tandasnya.
Sekolah Kader Penggerak Putri IPPNU Jawa Timur ini diharapkan mampu melahirkan kader perempuan yang tidak hanya cakap secara struktural, tetapi juga matang secara emosional dan sosial, serta siap berkontribusi di berbagai lini, termasuk ruang-ruang pengambilan kebijakan.
Sementara itu, pelaksana panitia Putri Naila Fadilatul Husna menyampaikan bahwa kehadiran Senator Lia Istifhama memberikan inspirasi besar bagi para peserta.
“Materi yang disampaikan sangat reflektif dan aplikatif. Ini menjadi bekal penting bagi kader IPPNU untuk menghadapi dinamika organisasi dan tantangan zaman,” tutupnya.
Melalui kegiatan ini, IPPNU Jawa Timur menegaskan komitmennya sebagai wadah kaderisasi perempuan muda NU yang diwajibkan pada nilai, adaptif terhadap perubahan, dan siap mengambil peran strategis bagi masa depan bangsa. (Kiki)