Surabaya, Selasa 3 Maret 2026 | Berita Satu- Dunia internasional mengguncang kabar wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, yang melaporkan kematian dunia dalam serangan udara di Teheran pada 1 Maret 2026. Informasi tersebut disiarkan sejumlah media resmi Iran, termasuk kantor berita IRNA, dan langsung menjadi perhatian global.
Khamenei merupakan tokoh sentral Iran sejak tahun 1989. Ia dikenal sebagai simbol perlawanan terhadap kebijakan Amerika Serikat dan Israel, serta secara konsisten mewakili dukungan terhadap perjuangan Palestina. Kepergiannya memicu respons luas dari berbagai tokoh dunia, termasuk dari Indonesia.
Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menyampaikan keseluruhan wafatnya ulama besar tersebut. Ia menekankan pentingnya penghormatan terhadap pemuka agama dalam konteks kemanusiaan universal.
“Ini tentu menjadi bersama. Kita harus menghormati semua agama dan pemimpin agama. Beliau adalah salah satu ulama besar di era kontemporer,” ujar Lia, Selasa (3/3/2026).
Menurutnya, dinamika global yang sarat konflik harus menjadi refleksi bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan nasional, bukan sekadar menjadi penonton atas gejolak internasional.
“Situasi global yang bergejolak adalah bagian dari dinamika peradaban. Fokus kita adalah membangun kekuatan dari dalam, memastikan bangsa ini tetap kokoh melalui penguatan ekonomi rakyat dan kearifan lokal,” tegasnya.
Dalam pernyataannya, Lia juga mengungkapkan rasa bangganya terhadap anak-anaknya yang menunjukkan kepeduliannya terhadap isu-isu kemanusiaan global. Salah satu mengunggah bahkan mengunggah foto kolase Khamenei di media sosial sebagai bentuk penghormatan.
Bagi Lia, hal itu menjadi refleksi bahwa pendidikan nilai dan empati sosial harus ditanamkan sejak dini.
“Saya bersyukur anak-anak memiliki kepekaan terhadap isu-isu kemanusiaan dan menghormati ulama, meski dari negara yang jauh. Mereka juga peduli terhadap Palestina,” ungkapnya.
Ning Lia menambahkan bahwa generasi muda Indonesia perlu memahami realitas global, namun tetap bersyukur hidup di negara yang damai.
Ayatollah Ali Khamenei memimpin Iran lebih dari tiga dekade. Selama masa kepemimpinannya, ia melewati berbagai ketegangan geopolitik, termasuk sejumlah percobaan pembunuhan yang menyebabkan cedera permanen di lengan kirinya. Di Iran, sosoknya begitu melekat di ruang publik, mulai dari poster di rumah warga hingga mural bertema patriotisme dan perlawanan. Dukungan terbukanya terhadap Palestina juga membuatnya mendapat simpati dari sebagian umat Islam di berbagai negara.
Kepergian Khamenei kini menempatkan Iran dan kawasan Timur Tengah dalam sorotan tajam dunia internasional, sekaligus memunculkan kekhawatiran atas eskalasi konflik global. (Kiki)