Surabaya, Selasa 20 Januari 2026 | Berita Satu- Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Lia Istifhama, menegaskan bahwa identitas penjual menjadi fondasi utama dalam membangun ekosistem belanja online yang sehat, aman, dan terpercaya. Ia menilai, platform e-commerce perlu memastikan setiap penjual memiliki alamat offline yang jelas agar transaksi digital tidak kehilangan kepercayaan.
Menurut Lia, belanja berani berpotensi menghadapi persoalan serupa dengan fenomena Rojali dan Rohana yang selama ini dikenal di pusat dunia. Rojali Merujuk pada rombongan pengunjung yang jarang berbelanja, sementara Rohana adalah pengunjung yang hanya bertanya tanpa melakukan transaksi.
“Di pusat dunia dunia kita mengenal Rojali dan Rohana. Datang ramai, tapi tidak membeli. Jika identitas dan alamat penjual di e-commerce tidak transparan, fenomena serupa bisa terjadi di ruang digital,” ujar Lia Istifhama, Selasa (20/1/2026).
Lia menegaskan, keberadaan alamat offline bukan untuk membatasi keinginan belanja online, melainkan sebagai bentuk akuntabilitas penjual kepada konsumen. Dengan informasi yang jelas, pembeli memiliki kepastian bahwa ada usaha nyata di balik etalase digital.
“Belanja online harus jelas. Siapa penjualnya, di mana alamat usahanya, dan bagaimana kualitas produknya. Transparansi ini yang menumbuhkan kepercayaan konsumen,” jelasnya.
Ning Lia menilai, kejelasan alamat fisik akan mendorong pelaku usaha yang lebih bertanggung jawab dan konsisten menjaga kualitas produk. Konsumen pun tidak hanya bergantung pada tampilan berani, tetapi juga memiliki referensi nyata terkait keberadaan penjual.
Menurut Lia, fenomena Rojali dan Rohana di dunia maya menunjukkan bahwa kepercayaan menjadi faktor penentu keputusan membeli, baik di ruang fisik maupun digital.
“Jika konsumen merasa aman dan yakin, mereka tidak hanya melihat-lihat atau bertanya. Mereka akan berani melakukan transaksi,” ujarnya.
Selain itu, Lia menekankan pentingnya literasi belanja digital di tengah pesatnya pertumbuhan e-commerce. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak semata-mata tergiur harga murah, melainkan juga mencermati penjual.
“Belanja online bukan sekedar klik dan bayar. Ini tentang informasi yang jelas dan rasa aman. Kejelasan alamat offline adalah bagian dari edukasi belanja digital,” tegasnya.
Dengan dorongan transparansi tersebut, Lia berharap ekosistem e-commerce di Indonesia tumbuh lebih sehat, profesional, dan berkelanjutan, sekaligus memberikan perlindungan optimal bagi konsumen.
“Jika kepercayaan publik terbangun, pertumbuhan transaksi digital akan berjalan secara alami dan berkesinambungan,” tutupnya. (Kiki)